Subscribe
Share
Search
top

Bandung Creative City Forum

Senyum Simpul 4: Bandung Bahagia, Buku dari Kacamata Seorang Arsitek Praktisi Hingga Gubernur Jawa Barat

Ditulis Oleh: Fadhilla Sandra A.
Tim Liputan: Surgia Kreshna M, Zainab.

Bandung Bahagia, sebuah buku dari perspektif seorang arsitek praktisi, Wali Kota Bandung hingga Gubernur Jawa Barat saat ini — Ridwan Kamil. Buku yang diterbitkan oleh Imaji Books ini melibatkan proses fotografi di dalamnya, dengan mempertimbangkan ruang publik yang dinikmati oleh warga Bandung.

Imelda Akmal selaku penulis buku arsitektur dan interior melibatkan diri dalam pembuatan buku Bandung Bahagia, berbekal dari keinginan Kang Emil membuat buku tentang laporan kemajuan kota dan infrastruktur selama ia menjabat sebagai Wali Kota Bandung periode lalu. Dalam proses penyusunan buku ini, Imelda melakukan observasi sekaligus melakukan riset terkait warga Bandung yang secara bebas berekspresi dan merasakan dampak nyata dari pengembangan ruang publik tersebut.

“Rancangan ruang publik di Bandung dijadikan sebagai extension dari ruang keluarga, karena setelah diamati warga menengah kebawah tidak memiliki ruang komunikasi yang baik, mungkin karena rumahnya sempit, atau masih adanya intervensi keluarga dari orang tua tersebut sehingga minimnya interaksi percakapan intim di rumah” jelas Imelda.

Kang Emil pun paham betul karakter warga Bandung yang terbiasa dengan bertemu atau ngariung dalam bahasa Sunda. Sehingga pertemuan antar masyarakat Bandung ini dijadikan objek fotografi dan tidak serta merta mengarah pada objek bangunan atau infrastruktur belaka, sebagaimana disampaikannya dalam sesi diskusi Buku Bandung Bahagia.

“Karena kotamu akan melahirkan siapa kamu” begitu tegasnya. Sebagai orang yang lahir dan besar di Bandung, Kang Emil melihat bahwa emosi merupakan faktor penting dalam menciptakan inovasi, terlebih dalam memberikan kemajuan di suatu daerah. Sejalan dengan metode design thinking yang menitikberatkan emosi pengguna, desain infrastruktur Kota Bandung saat ini merupakan hasil akumulasi kegelisahannya, terlebih apabila desain tersebut dapat memberikan dampak emosi lebih pada kebanyakan orang.

Dengan mendirikan taman dan melakukan perbaikan di berbagai sudut kota termasuk spot selfie, hal ini diharapkan mampu mengurangi kebiasaan anak muda yang memiliki tendensi untuk menghabiskan akhir pekan di mall atau kedai kopi, alih-alih demikian Kang Emil ingin merangkul anak muda Bandung untuk menikmati infrastruktur di kota sendiri. Karena berdasarkan hasil survei, sumber kebahagiaan warga Bandung berasal dari keharmonisan keluarga serta interaksi manusia, dengan kata lain emosi menjadi faktor penentu tingkat kebahagiaan dan melalui perbaikan desain infrastruktur dapat membahagiakan khalayak umum.

Sehingga, di akhir masa jabatannya sebagai Wali Kota Bandung — Kang Emil percaya dengan meningkatkan kebahagiaan warga Bandung melalui perbaikan desain infrastruktur, dapat menjadi tolok ukur bagi keberhasilannya sebagai Wali Kota Bandung. Serta dengan menjadi Gubernur Jawa Barat, Kang Emil percaya akan membawa perubahan lebih besar dengan memperbesar skala daerah yang dipimpinnya.

Post a Comment