Subscribe
Share
Search
top

Bandung Creative City Forum

Asia Pacific Social Enterprise Summit 2019: Konferensi Bisnis Sosial Skala Internasional di Taiwan

Ditulis oleh: Fadhilla Sandra A.

Kaohsiung Exhibition Center, Lokasi Asia Pacific Social Enterprise Summit (APSES) 2019. Sumber Foto: Adi Panuntun

Seiring berjalannya waktu, pergeseran makna profit atau keuntungan sudah bukan merupakan materi belaka. Namun kini, semakin maraknya proyek sosial yang didasarkan pada upaya memberikan dampak atau perubahan kolektif bagi masyarakat dengan menyeimbangkan aspek bisnis serta aspek sosial ke dalam suatu model bisnis, hal ini tentu lebih dikenal dengan Social Enterprise atau bisnis sosial.

Sumber Foto: Adi Panuntun

Pada 11–12 Mei silam, telah diadakan sebuah konferensi tahunan internasional berskala Asia Pasifik di Kaohsiung, Taiwan yakni Asia Pacific Social Enterprise Summit (APSES) 2019. APSES merupakan sebuah hasil kerjasama antara pihak swasta dan pemerintah Taiwan pada tahun 2018, dengan mengangkat tema sosial Taiwan’s Heartwarming Power. APSES dibentuk dengan tujuan untuk membantu ekosistem inovasi sosial Taiwan yang dijadikan pula sebagai ajang untuk mengenalkan kemampuan dan keikutsertaan Taiwan dalam membantu permasalahan global. Tentu berfokus pada Sustainable Development Goals (SDGs), yakni agenda dari PBB dan secara bersama melibatkan berbagai macam peran di berbagai sektor, seperti organisasi dan representatif dari masyarakat sipil, korporasi, pemerintah, 1200 orang pegiat bisnis, change makers, dsbnya.

Seakan menjadi platform bagi para penggerak social enterprise, konferensi ini dijadikan ajang bagi mereka yang ingin turut serta berkontribusi untuk mengaktivasi energi serta potensi dari social enterprise di Asia. Dilandaskan dari kondisi kawasan Asia yang memiliki ragam budaya, hal ini menjadi faktor pendorong penting bagi terbentuknya APSES untuk berinovasi serta meningkatkan keberagaman, kreativitas dan inklusivitas dalam membangun ekosistem social enterprise yang lebih erat di Asia. Tentu dengan menaruh perhatian pada infrastruktur, inkubasi, akselerasi hingga jaringan kolaborasi secara regional.

Sumber Foto: Adi Panuntun

Konferensi ini turut diramaikan oleh beragam pembicara seperti besar, seperti Audrey Tang — Menteri Digital Taiwan yang masih terhitung muda, yakni 38 tahun. Seakan tidak ingin dibatasi karena orientasi gender, Tang mendobrak pandangan masyarakat Taiwan, terutama pemerintah Taiwan dalam memecahkan permasalahan yang dimiliki oleh pemerintah dan aktor di sektor bisnis. Ia pun memberikan kontribusi besar dalam mengintegrasikan pemerintah, bisnis, inovasi dan gerakan sosial agar dapat berjalan secara koheren.

Audrey Tang, MenterI Digital Taiwan. Sumber Foto: Adi Panuntun

Hadir pula, Shiza Shahid — seorang aktivis sekaligus investor NOW Ventures, serta pendiri dan CEO dari Malala Foundation. Shahid berperan penting dalam membantu Malala Yousafzai, seorang pelajar muda yang ditembak oleh Taliban, yakni dengan membantu mengembalikan hak Malala untuk memiliki edukasi terlebih sebagai seorang perempuan. Shahid juga aktif dalam memberdayakan perempuan di isu sosial, sehingga ia pun menjadi salah satu nominasi Times 30 Under 30 World Changer dan Forbes 30 Under 30 Social Entrepreneur and Tribeca Institute Disruptive Innovator. Dalam konferensi ini Shahid berbicara mengenai aktivasi sosial yang memiliki dampak besar bagi masyarakat.

Selain itu, pembicara yang turut memeriahkan adalah Tonya Surman — sosial-preneur asal Toronto, Kanada serta pendiri dari Centre for Social Innovation (CSI). Perannya pada aktivitas sosial lebih dikenal dalam membangun ruang publik bersama yang ditujukan untuk berjejaring dengan inovator sosial dan juga untuk menjaga kolaborasi antar aktor tersebut. CSI telah menjadi tuan rumah untuk 700 organisasi yang menaruh perhatian pada aspek sosial.

Pada konferensi internasional ini, APSES pun mengadakan kompetisi inovasi sosial yang dinilai langsung oleh juri tingkat internasional, hal tersebut telah menarik perhatian hingga 13 negara lebih di kawasan Asia Pasifik.
Berita baik untuk Indonesia, terutama Bandung. BCCF telah menjuarai kompetisi inovasi sosial melalui proyek Cigondewah Fashion Village Lab dengan dua kategori sekaligus yaitu sebagai (Best) Social Progress dan Special Jury Prize (Proyek pilihan Juri), Diharapkan hal ini dapat menjadi langkah baru untuk dapat menjajaki bisnis sosial di kancah internasional, mengingat Indonesia memiliki potensi yang cukup besar pada sektor ekonomi kreatif.

Editor: Rizka R Safitri

Post a Comment